80 Tahun Pramoedya Ananta Toer Berkarya: Menulis, Olahraga, dan Senyum
Oleh Muhidin M Dahlan
"Wah Muk, kau akan tumbuh jadi sekuntum bunga, bunga aneh. Setengah orang
akan mencintai dan setengahnya lagi akan membencimu."
--Saidah, Ibunda Pramoedya Ananta Toer.
HARI ini, Minggu 6 Februari 2005, genap Pramoedya Ananta Toer berusia 80
tahun. Pram pun sebetulnya tak menduga bahwa usianya bisa merentang
sepanjang ini. Sebab ia pernah memprediksi usianya tak lebih dari 30
tahun. Apalagi, salah satu hero dalam hidupnya, ibundanya, meninggal di
usia muda karena TBC.
Karena itu, berkejaran dengan ancaman mati-muda Pram berkarya
sekuat-kuat-kuatnya, sebisa-bisanya. Dan memang ia lolos dari usia itu dan
tumbuh menjadi sekuntum bunga yang aneh. Ibunya berpesan: "Ingat-ingat
selalu kata-kataku: jadi orang bebas, Muk, jadi tuan atas diri sendiri,
allround, bisa segala, tidak jadi budak orang lain, juga tidak
memperbudak.... Jangan sampai jadi beban orang lain. Juga jangan menerima
beban tanpa guna." (Lihat Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, LD (edisi revisi),
2005: 418)
Dan menulis adalah usaha Pram untuk mengamalkan nasihat itu, yakni menjadi
manusia bebas. Dengan menulis ia tak menghamba kepada orang lain dan juga
tak menindas sebab tak punya alat-alat kekuasaan dan sederetan serdadu.
Pilihan itu memang berisiko. Ia harus rela tak dapat kedudukan apa pun
dalam pemerintahan dan kemapanan ekonomi, kecuali kebebasan dan pengakuan.
Spirit itu kemudian menjadi air bah yang menghembalang saraf Pram untuk
menulis, menulis, dan menulis. Dan ia tak punya modal kejeniusan yang
patut dibanggakan. Barangkali satu-satunya yang ia punyai adalah kerja
keras dan keinginan untuk belajar.
Bayangkan, ia dua kali tinggal di kelas empat SD. Dan di kelas tujuh,
kelas terakhir Boedi Oetomo di Blora, ia tinggal lagi di kelas. Oleh
ayahnya yang juga kepala sekolah ia dikatai begini: "Anak goblok! Kalau
kau sedikit saja cerdik... kembali, ulangi di kelas tujuh." Saat itu Pram
menjadi "pendendam". Untuk melawan kutukan "anak goblok" itu ia bekerja
habis-habisan dengan sepenuh-penuh ketekunan menulis. Hal itu seperti
mengiyakan ucapan Umberto Eco (2003: 672) bahwa genius adalah satu persen
inspirasi dan sembilan puluh sembilan persen perspirasi (peluh).
Tak sedikit yang mencemooh karyanya sebagai karya rongsokan, dikata-katai
sebagai karya pitjisan, dan sebagainya, oleh kalangan sastrawan di
selingkungannya (baca: Balai Pustaka). Tapi Pram seakan tak peduli dengan
semua itu. Sebab bagi Pram faktor pertama untuk bisa menulis (yang baik)
adalah menulis dan terus begitu.
Oleh ucapan Pram itu saya teringat wejangan novelis William Forester
kepada murid sekaligus sahabatnya yang masih duduk di SMU, Jamal Wallace,
dalam film Finding Forester. "Faktor pertama dalam menulis adalah menulis.
Banyak sekali orang tahu aturan menulis, tapi tak tahu caranya menulis.
Profesormu itu (Robert Cramford, profesor penulisan di kelas Jamal),
karena gagal bersaing denganku menjadi penulis dan novelnya ditolak oleh
penerbit, akhirnya banting setir mengajar bagaimana cara menulis. Lebih
mudah mengajar menulis dari menulis senyatanya. Jadi, problem menulis
adalah menulis itu sendiri."
Menjadi penulis berarti dituntut untuk berkarya. Menulis. Betapapun sangat
rendah mutu karya, Pram tak pernah mau berhenti dalam kutukan atas diri
sendiri. Sebab Pram sadar bahwa menulis, sampai pada titik "menulis yang
baik", membutuhkan proses yang tak sebentar. Dan itu tak mudah. Berliku
dan berdarah-darah. Terkadang banyak yang tak mau tahu dengan proses
panjang yang mendaki dan berliku ini. Disebabkan ketiadaan cadangan asa
yang memadai, akhirnya tak sedikit yang terjatuh di tengah kubangan jalan
yang menikung. Lalu berlari keluar dan menyingkir jauh-jauh dari jalan
kepenulisan.
Dari mana Pram mendapatkan ruh dan bahan menulis yang seperti tak ada
habis-habisnya itu? Sepengakuan Pram, selain meriset (baca: mengkliping
koran), bahan dasar dari setiap tulisannya berdasarkan ketajaman perasaan
menangkap pengalaman. Mengutip nasihat Prof Wertheim ketika bertemu di
Belanda, Pram mengatakan bahwa bagi seorang pengarang sebaik-baik
sekolahan adalah kehidupan, dan modalnya hanya berani bergaul, pergaulan
yang disadari, dipilih, dicoba, dan dinilai.
Menurutnya, tidak mesti orang belajar dengan membaca buku. Belajar bisa
dengan mengamati, memperhatikan, menghafal, mendengarkan. Tetapi banyak
belajar (ilmu pengetahuan) tidak menjamin orang menjadi kreatif. Bagi
Pram, orang yang cerdas dan kreatif adalah yang pandai menarik kesimpulan
dari ilmu dan pengetahuannya dan pengalamannya.
Maka hemat Pram penting untuk menilai pengalaman secara seksama dengan
ketajaman mata selidik. Sebab setiap pengalaman yang tidak dinilai, baik
oleh dirinya sendiri ataupun oleh orang lain, akan tinggal menjadi sesobek
kertas dari buku hidup yang tidak punya makna. Padahal setiap pengalaman
tak lain daripada fondasi kehidupan. Oleh sebab itu, tegas Pram,
belajarlah menilai pengalaman sendiri dan membentur-benturkannya dengan
lingkungan tempat di mana pengalaman itu tumbuh.
"Beras menjadi putih bukan hanya karena tertumbuk alu, tetapi karena
pergeseran dengan sesama beras karena tumbukan alu," kata Pram mengutip
ucapan salah satu srikandi pergerakan nasional awal abad 20, Siti
Soendari.
"Tugasku Hanya Menulis"
Ya, menulis bagi Pram adalah profesi adalah hidup dan menjadi tugas
nasionalnya. Menulis baginya sama sekali bukan ingin bersolek untuk
mendapatkan pengakuan puja-puji dari para kritikus. "Tugasku hanya
menulis. Kalau Penilaian apakah layak atau tidak, itu bukan urusan saya.
Itu urusan kritikus, urusan pengamat..."”
Pram memang tak hendak mencari-cari nama dalam usahanya yang
sungguh-sungguh di jalan kepenulisan walaupun ia sungguh sadar bahwa
menulis adalah usaha mengekalkan nama di ingatan publik.
“Aku sendiri tidak pernah mencari nama. Kalau aku kau anggap punya nama,
nama itu tidak lain dari pemberian masyarakat. Nama bukan dicari, dia
hanya imbalan. Kalau kau memberikan hasil kerjamu pada seseorang, dan
orang itu suka, engkau pun akan mendapat nama dari dia. Nama adalah produk
sosial. Juga dibutuhkan ausdauer untuk mempertahankan dan
mengembangkannya. Tentu kau mengerti maksudku: nama adalah bangunan atas
hasil karya. Orang tak perlu mencari-carinya.” (NSSB, 2005: 185)
Ya, karena Pram tak mengindahkan pujian dan "nama baik", maka ia dengan
bebas mengungkapkan apa pun yang dipikirkan dan dirasakannya tanpa harus
takut dicela atau kehilangan nama. Sebab di arasnya yang sejati seorang
penulis yang kreatif hampir selalu seorang individualis, berwawasan
mandiri, sulit untuk menyesuaikan diri dengan orang lain, keadaan lain,
apalagi bila keadaan itu sama sekali baru.
Maka sungguh mengherankan bila negara misalnya, takut akan keberadaan
pengarang yang sepi sendiri ini dan dianggap merongrong dan membahayakan.
"Saya memang makin bingung dengan Indonesia ini. Takut dengan pengarang
dan dipenjarakannya saya selama 14 tahun tanpa pengadilan. Padahal di
belakang saya selain sepi sunyi tak ada deretan tentara, persenjataan
canggih, atau pembunuh-pembunuh bayaran. Heran saya."
Menulis, Olahraga, dan Senyum
Siapa pun mengakui bahwa Pram adalah penulis yang tangguh dengan jam
terbang yang fantastik. Dan jujur kita katakan tak banyak sastrawan kita
bisa berkiprah selama ini, seproduktif ini, dan seberkibar ini. Telah
lebih dari 60 karya dihasilkannya berupa novel, roman, cerpen, esai,
terjemahan, maupun puisi (walau hanya tiga biji!). Mestinya, di usianya
yang ke-80 ini Pram sudah peyot dan pikun. Tapi ternyata tidak, ia masih
tampak bugar, bersemangat, dan senang bercanda. Apa rahasianya?
Olahraga dan senyum!
Untuk mempertahankan gairah menulis, Pram memang rajin berolahraga. Dalam
pandangan Pram, olahraga adalah salah satu syarat untuk pandai, maju.
Dengan berolahraga tubuh menjadi sehat karena peredaran darah lancar dan
baik. Dalam berolahraga semua bagian tubuh dilatih mendapatkan
keseimbangan. "Olahraga membikin tubuh jadi lentur, tidak kaku. Tubuh yang
kaku adalah sama dengan batang kayu yang telah lapuk, bila ditekuk dia
patah. Juga tidak ada guna kepandaian kalau orang itu tidak bisa
menggunakan karena kesehatan tidak mengizinkan," kata Pram.
Kalau senyum? Aha, Pram memandang senyum (yang dilatih) sebagai bagian
dari usaha mengendorkan otot dan merilekskan syaraf. Orang bisa saja
terlihat tidur, tetapi syaraf dan otot-ototnya kadang tidak ikut
istirahat. Tapi dengan latihan senyum, senyum yang rela, senyum tanpa
suatu pamrih, kata Pram, jiwa menjadi damai karena semua ketegangan
lenyap. Jiwa menjadi jernih. Dan olahraga membikin orang jadi optimis.
Jiwanya tidak digelapi oleh pesimisme.
Barangkali, buat Anda yang ingin usia menulisnya panjang dan terjaga,
resep Pram itu boleh dipertimbangkan. Selamat ulang tahun ke-80 ya, Kakek
Pram!
Muhidin M Dahlan, pengrajin wacana, tinggal di Yogyakarta.
[Media Indonesia, Minggu, 06 Februari 2005]
NeoPram Online
NeoPram Online diniatkan sebagai media informasi dan komunikasi bagi Neo Pram. Terbuka kontribusi foto, esai, puisi dan lainnya bagi semua orang yang merasa dirinya sebagai NeoPram




