Menghormati Pram, Bangsa dan Tanah Airnya
Eka Budianta
Seni & Budaya (Kompas, 07 Mei 2006)
Dua hal paling penting sepeninggal wafatnya Pramoedya Ananta Toer adalah warisannya untuk dunia dan perlakuan bangsa Indonesia terhadap warisan itu. Warisan Pram terbesar adalah rasa cinta mendalam dari berbagai bangsa kepada sebuah negeri bernama Indonesia. Sedangkan perlakuan yang paling diharapkan adalah bagaimana warisan itu dapat diterima dan dikembangkan dengan sebaik-baiknya.
Pramoedya lahir dari keluarga guru, di Blora (Jawa Tengah dekat perbatasan dengan Jawa Timur) pada 6 Februari 1925. Ia meninggal dunia sebagai seorang opa, ayah, suami, kakak, dan sahabat pada hari Minggu pagi, 30 April 2006 di Utan Kayu, Jakarta Timur. Dalam rentang hidupnya 81 tahun dua bulan tiga minggu dan tiga hari itu Pram membangun Indonesia-nya, pemahamannya pada sejarah dan kehidupan: dunianya!
Ia tidak wafat sebagai pensiunan, pegawai, apalagi pejabat. Ia mati sebagai manusia yang lemah, didera infeksi paru-paru dan komplikasi diabetes. Ia wafat setelah "mengabsen" dan mencoba merangkul orang-orang yang mencintainya satu persatu. "Sampaikan terima kasih pada semua," katanya. Pram adalah seorang pria yang hangat, penuh humor, simpatik, dan memuja anak-anak muda. "Mereka adalah mahkota bangsa," katanya pada setiap kesempatan.
Pram menghormati buruh dan tidak "mengecilkan" siapa pun. Rumahnya besar. Tapi, ia tidak "memelihara" pembantu rumah tangga. Semua dikerjakan sendiri, termasuk menyapu, mencangkul, dan membakar sampah. Simpatinya kepada para petani tembakau tidak pernah luntur sampai akhir hayatnya. Beberapa saat sebelum napasnya yang terakhir, ia minta rokok. Pram juga minta digosok minyak gandapura. Ia lebih suka dirawat di rumah secara alamiah ketimbang di rumah sakit. Kalau tidak dijaga ketat, saluran infus dan selang oksigen selalu dilepasnya.
Warisan terindah
Pada tahun 1987, seorang murid kelas V sekolah dasar di perdesaan kecil di Midwest bertanya, "Apakah di Indonesia masih banyak Inem?" Siapa Inem? Pembantu rumah tangga?
"Bukan. Inem, gadis berumur 11 tahun dalam cerpen Pramoedya, yang dikawinkan paksa, untuk meringankan beban ekonomi orangtuanya."
Ya, ampun! Sebegitu mendalam Pramoedya memperkenalkan bangsa dan tanah airnya ke segala penjuru dunia. Karya-karyanya (novel, cerita pendek, drama, dan esei) terbit di dalam 41 bahasa. Buku-bukunya masuk ke berbagai rumah, bahkan kamar tidur segala bangsa. Seorang perempuan di Inggris selatan menulis panjang lebar, sangat berterima kasih setelah membaca roman Bumi Manusia. Seorang wartawan di Jepang mengirimkan alat bantu pendengaran setelah tahu telinga Pram jadi tuli karena dipukul popor senjata.
Begitu banyak simpati mengalir untuk Pramoedya. Novelis tersohor Jean Paul Sartre dari Perancis mengirimkan mesin ketik untuknya. Pemenang Nobel dari Jerman, Heinrich Boel, memberi semangat dengan mengirim lukisan jago sedang bertarung. Presiden Cile menganugerahkan bintang Pablo Neruda. Dan seterusnya dan seterusnya. Semua menunjukkan bahwa ia sangat diperhatikan, dicintai, dan mencintai bumi yang melahirkannya.
Jadi, kalau ada yang bertanya apa warisan Pram terbesar? Cinta dunia pada Indonesia. Termasuk pada Pram sendiri, melalui berbagai hadiah, penghargaan, gelar doctor honoris causa, dan sambutan meriah pada karya-karyanya di mana-mana. Dalam kalender PEN Internasional, sejak tahun 1985 tercatat bahwa setiap 6 Februari adalah "Hari Pramoedya".
Pram sangat dipahami serta dicintai para pengarang besar dan kecil. Kalau ada beberapa pengarang dalam negeri yang tidak menyukainya, ia juga sangat mengerti. Dalam pidato tertulisnya ketika menerima hadiah Magsaysay dari Filipina, ia menyatakan, "Bahwa karya-karya dilarang beredar di tanah air saya sendiri atas permintaan beberapa pribadi dalam elite kekuasaan, bagi saya tidak jadi soal."
Sejauh saya mengenalnya (sejak 1983) Pramoedya Ananta Toer tidak pernah menunjukkan sikap antipati kepada seseorang. Ketika Taufiq Ismail dan DS Moeljanto (alm) menerbitkan kompilasi Prahara Budaya yang dinilai banyak orang sebagai upaya "menyudutkan Pramoedya", yang bersangkutan justru tak keberatan. "Tidak ada yang baru dalam buku itu. Isinya adalah kumpulan berita di koran," katanya.
Pram malah merasa kasihan kepada para pengarang yang menentangnya. "Apakah tidak semakin menjelaskan bahwa mereka begitu penakut?"
Mungkin ada yang masih merasa takut dan traumatis hingga sekarang bila mengenang sepak terjang Pramoedya antara 1959- 1965. Karena tulisannya yang sangat tajam, banyak orang menderita. Rumahnya dilempari, HB Jassin dipecat dari Universitas Indonesia, banyak yang merasa diteror, dan sebagainya. Prof Dr Boen S Oemarjati konon juga punya pengalaman pahit tersendiri. Namanya masuk dalam "daftar hitam".
Tetapi, kalau sekarang kita lihat rumah Inul Daratista dan kantor Ratna Sarumpaet didemo setelah mengadakan pawai Bhineka (22 April 2006), apa bedanya? Bukankah terorisme dan pelecehan merupakan dampak dari kebebasan dan perasaan benar yang berlebihan? Pramoedya dan teman-temannya pun menghadapi hal yang sama, bahkan lebih lama. Setelah balik dari Pulau Buru, ia dikenakan "wajib lapor", rumahnya diawasi, dan orang takut bertamu kepadanya.
Dan itu tidak menjadikan dia punya alasan untuk berhenti mempersembahkan karya terbaiknya buat dunia dan bangsa ini. Pram tetap rajin bangun pagi, membaca semua surat kabar, menggunting, mengkliping, membuat catatan, terus-menerus sepanjang hari, sampai surya pun terbenam. Belum pernah saya melihat sastrawan Indonesia lain yang lebih giat bekerja dari Pramoedya Ananta Toer.
Tidak mengherankan bila harian The New York Times, 1 Mei 2006, beberapa jam setelah novelis besar itu wafat, mencatat bahwa Pramoedya adalah sastrawan yang paling banyak berkorban untuk mendidik bangsanya. "No other author has been willing to sacrifice so much to educate his compatriots."
Perilaku kita selanjutnya
Masalah kedua adalah bagaimana Indonesia memperlakukan nama dan karya-karyanya di masa depan? Ada yang mengatakan akan mengganti Jalan Utan Kayu menjadi Jalan Pramoedya. Ada yang ingin meneruskan cita-citanya membangun Institut Pramoedya. Dan seterusnya, dan seterusnya. Sikap pemerintah pun sudah semestinya berubah. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik datang melayat. Wakil Presiden Jusuf Kalla juga dikabarkan mengirim bunga.
Hal seperti itu dengan gembira dapat dimengerti. Ketika Mochtar Lubis wafat (2004), Jusuf Kalla juga ikut menunggui jenazah di Taman Ismail Marzuki, diantar Rachmat Witoelar. Kita patut gembira melihat perhatian pejabat, sekecil apa pun, kepada para budayawan, seniman, yang secara universal dianggap sebagai aset nasional. Ingat, Presiden BJ Habibie juga melayat novelis YB Mangunwijaya, yang disemayamkan di Katedral Jakarta (Februari 2000).
Tetapi, di antara Presiden Indonesia, hanya Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) yang dekat dengan Pramoedya. Selama menjabat presiden, dua kali Gus Dur menjenguk Pram di rumahnya. Gus Dur (dan Pram) juga melayat ketika Wiratmo Soekito meninggal dunia. Padahal, kata orang, Wiratmo dan Pram adalah musuh besar. Selalu ada yang mendramatisasi bahwa pertentangan antara pendukung Manifes Kebudayaan (Manikebu) dan Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) seolah-olah lebih dahsyat dari perang saudara.
Setelah Pram wafat, Indonesia perlu memasuki paradigma baru. Pertarungan ideologis bahkan yang lebih seram clash of civilization (benturan peradaban) hendaknya disikapi dengan kepala dingin dan hati yang damai. Banyak yang mencatat bahwa kehidupan Pramoedya penuh ironi. Karya-karyanya diharamkan, tetapi sekaligus sangat disukai. Dia dicap ateis, tetapi juga dengan khusyuk didoakan. Jadi, menerima dan mengembangkan warisan Pramoedya berarti membiarkan jiwa ini menjadi lebih besar. Kita telah mendapat teladan, betapa seorang pengarang yang dianiaya ternyata juga disanjung karena menyumbangkan karya-karya terbaik kepada dunia.
Eka Budianta Sastrawan, inisiator Jababeka Multi Cultural Center di Cikarang, Jawa Barat
Post a Comment